16 August, 2010

BEAUTIFUL SENGGIGI




10 August, 2010

APA KABAR ACEH (2)


Selama 4 bulan di Aceh kami bertugas “mengajar” anak2 pengungsi sebagai bagian dari Mental Recovery Program…karena sebagain besar anak mengalami trauma. Metode belajar sambil bermainlah yang diterapkan..sehingga meskipun nama sekolah kami “Sekolah Ceria” namun prakteknya tidak seperti sekolah formal. Aku dan 2 orang temanku “bertugas” di Barak Punteut-Kota Lhokseumawe. Saat kami sampai barak belum selesai dibangun sehingga sementara para pengungsi tinggal di eks Lembaga Pemasyarakatan (LP) sambil menunggu selesainya pembangunan barak yang terletak di seberangnya.


Tahukah kau kawan apa tantangan terberat saat kita berada di daerah yang baru??? seperti yang kualami, diperlukan sedikitnya 2 minggu untuk beradaptasi dan “berdamai”. pertama komunikasi dengan anak-anak awalnya sulit karena tidak semua lancar berbahasa Indonesia akhirnya komunikasi ”gado2” kami berbahasa Indonesia mereka bahasa Aceh namun akhinya semua biasa teratasi…aku bersyukur…karena dari merekalah aku belajar bahasa Aceh…mereka siap jadi penterjemah saat ada orang yang bertanya dalam bahasa Aceh padaku. Langsung aja mereka akan berkata “Bek Bahasa Aceh hai…han jeut!! (maksudnya jangan bicara bahasa Aceh, gak ngerti). Hal kedua adalah Cuaca yang begitu panasnya…he2 sampai2 sepulang dari Aceh wajahku gosong banget!!. Hal ketiga adalah makanan, makanan Aceh seperti layaknya Sumatera dan Melayu pedas, berkuah dan bersantan. Tidak seperti beberapa bulan kemudian banyak pendatang yang mendirikan warung padang dan Warteg…waktu itu belum ada…jadilah selama sekitar 2 minggu itu perutku harus menyesuaikan dengan masakan Aceh…duh…duh…Kalau tidak ingat niat semula datang ke Aceh untuk apa mungkin udah kabur ke Jakarta. Alhamdulillah azzam masih kuat bertahan sampai akhir…toh itu semua berhasil kami lewati.


Ada satu moment yang tak akan pernah kulupakan…saat masih di Aceh sekitar bulan Maret 2005 terjadi Gempa Nias yang berkakuatan sekitar 8,7 skala Richter. Gempa terjadi sekitar pukul 11 malam..aku yang tinggal di Lantai dua sangat merasakan goncangan, bersama teman sekamarku kami bergegas turun…saat memegang pegangan pintu akan menuju tangga aku terayun-ayun kesana kemari karena kerasnya guncangan gempa. Aku buru2 menuruni tangga sambil beristighfar..sampai di bawah…aku baru ingat aku gak pake jilbab…akhirnya ditengah bumi yang masih bergoncang aku naik kembali ke kamarku untuk mengambil jilbab. Tak lama kemudian dari barak terdengar orang melantunkan Adzan..(Adzan di tengah malam???) itulah religiusnya masyarakat Aceh.


Aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di Barak jika suplai air terlambat ya harus siap tidak mandi karena air lebih diperlukan untuk keperluan rumah tangga seperti minum dan memasak. Jumlah barak yang terbatas membuat beberapa kepala keluarga pengungsi menempati 1 kamar barak bersamaan. Di tengah berbagai keterbatasan tersebut Satu hal yang kukagumi dari masyarakat Aceh..meskipun mereka dalam kesusahan tapi mereka amat memuliakan tamu…itu kami alami ketiga tugas kami berakhir…anak-anak yang kami ajar memberi kami “kado” kata mereka. Kado2 tersebut sebenarnya berasal dari bantuan2 yang mereka terima seperti handuk, peralatan mandi dan lain-lain. Saat berangkat dari Jakarta aku berfikir bahwa saat pulang dari Aceh nanti…tas-ku akan ringan karena barang bawaan kami habis digunakan…tapi ternyata kami salah…karena bawaan kami bertambah banyak…macam barang bawaan TKI tulah. Di Aceh pula aku punya keluarga angkat, Ayahku adalah Pak Geuchik (kepala kampung) aku punya ibu, abang, kakak, dan adek.


Hari itupun akhirnya datang…(bulan Juni saat kepulangan kami ke Jakarta)…setelah empat bulan lamanya kami di Aceh dengan segala kenangannya…yang tak akan kulupakan As long As my life. Dari Lhokseumawe kami menuju Banda Aceh Dahulu seperti saat kedatangan kami untuk selanjutnya akan “terbang” ke Jakarta. Masih kuingat beberapa muridku berjejer mengantar kami naik “labi-labi” (angkot di Aceh)..sebagian ada yang “ngambek” sambil berkata pokoknya ibu gak boleh pulang ke Jakarta…..Hmmmm berat rasanya ninggalin Aceh….tapi hidup harus berlanjut….tugas lain telah menanti.


Kini 5 tahun sudah setelah Tsunami itu. apa kabar Aceh sekarang???? pengen banget napak tilas lagi kesono….semoga ada umur dan rizki...Aku masih ingat sms yang dikirim teman saat bus yang kami naiki perlahan-lahan meninggalkan terminal Lhokseumawe menuju Banda Aceh…..”seutiap watee meupreh syeudara mandum”…..Buat seluruh masyarakat Aceh Teurimeung Geunaseh beuh!

Dedicated to : “My family” in Aceh (Bapak, ibu, kakak, abang, adek), dan sahabat-sahabatku tersayang..Peu haba??? Teurimeung Geunaseh beuh!! Pajan Geutanyoe jeut meurumpok loem????? loen rindu that:-(

Peu haba = Apa kabar?;

Teurimeung Geunaseh = Terimakasih;

Pajan Geutanyoe jeut meurumpok loem = kapan kita bertemu lagi;

Loen rindu that = gue kangen banget;

@@@@......@@@@@@.... ROSIE August 2010……@@@@

APA KABAR ACEH (1)

Daerah Istimewa Aceh/Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu Provinsi yang ada Di Indonesia. Letaknya di ujung paling Barat Pulau Sumatera. Kekhususan Aceh di banding daerah lain di Indonesia adalah penerapan syariat islam yang diatur secara khusus oleh undan-undang (Kanun Aceh). Di Indonesia ada 2 DI (Baca Daerah Istimewa) Yogyakarta dan Aceh, sementara Jakarta menyandang gelar Daerah Khusus Ibukota (DKI).

Sebelumnya tak pernah terbayang akan menginjakkan kaki bahkan tinggal di Bumi Serambi Mekkah (Bahasa Aceh Bumoe Seuramoe Mekkah). Maklum kondisi Aceh yang dilanda Konflik yang berkepanjangan membuat orang berfikir 2x untuk kesana. Siapa sangka akhirnya kujejakkan kakiku di Bumoe Iskandar Muda. Semua berawal dari Gempa dan Tsunami Mahadahsyat yang meluluhlantakkan Aceh dan beberapa wilayah lain seperti kepulauan Andaman dan Pukhet di Thailand pada 24 Desember 2004. Di Aceh sendiri tak kurang 200.000 orang lebih meninggal dan hilang. Kejadian ini segera menarik perhatian “ummat manusia” diberbagai penjuru Dunia…yang berbondong-bondong memberikan bantuan bagi Aceh.

Singkat cerita kami berangkat dari Jakarta 1 bulan setelah Tsunami (tepatnya 4 Februari 2005). Ada 10 orang relawan dari Jakarta yang nanti akan disebar di berbagai titik pengungsian di Aceh. Dari Bandara Soekarno-Hatta kami naek pesawat Garuda…aku sedikit deg2an…maklum itu adalah pengalaman pertamaku naek pesawat (he2…norak ya???)..Di pesawat sebagian besar penumpangnya adalah relawan dari berbagai NGO/organisasi dalam dan luar Negeri. Ada teman2 Resimen Mahasiswa (Menwa) yang akan melakukan evakuasi, NGO medis dan lain-lain. Pesawat berangkat dengan tujuan Bandara Iskandar Muda (Blang Bintang). Jakarta-Aceh ditempuh sekitar 3 Jam. Sebelum mendarat, dari atas pesawat kami dapat melihat pantai barat (Meulaboh) yang rata dengan tanah…membuatku tak kuasa menitikkan air mata. Tiba di Bandara Iskandar Muda, aku harus sudah mulai beradaptasi dengan udara yang begitu panasnya..Aceh sebagian besar dikelilingi laut, ditambah lagi “musnahnya” pohon2 karena di libas Tsunami.

Dari Bandara kami dijemput menuju Kantor Perwakilan NGO kami di Banda Aceh. Untuk selanjutnya kami bersepuluh akan “bertugas” di daerah berlainan. Sebelum berangkat ke tempat tugas masing-masing kami sempat berkeliling Banda Aceh. Nyata benar dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan Gempa dan tsunami. Banyak rumah yang hanya menyisakan lantainya saja atau lebih parah lagi pinjam istilah masyarakat setempat “rumah tak ada lagi, rumah tinggal laut”. Di beberapa tempat masih ditemukan mayat…Namun Anehnya…meskipun sekitarnya boleh dikatakan tak ada lagi yang tersisa namun Masjid masih berdiri dengan kokohnya seperti yang kami saksikan di Lampuuk. Lampuuk yang terkenal dengan keindahan pantainya hanya menyisakan sebuah Masjid yang masih kokoh berdiri sementara sekitarnya rata dengan tanah. Di beberapa tempat kami menyaksikan para relawan sedang menguburkan mayat di kuburan massal. Miris menyaksikannya…mayat2 yang dibungkus dengan plastic (Jika kita tidak tahu pasti akan menyangka tumpukan sampah). Di kuburkan bertingkat-tingkat selapis demi selapis. Kami juga mengunjungi tempat pengungsian dan “bermain” dengan anak-anak yang sebagian masih trauma.


Akhirnya tiba juga saat harus berpisah dengan teman2 yang akan “bertugas” di Banda Aceh…sementara aku dan 4 orang temanku “bertugas” di Lhokseumawe-Aceh Utara. Perjalanan Banda Aceh-Lhokseumawe ditempuh selama lebih kurang 7 jam. Namun faktanya hampir 10 Jam karena banyak berhenti untuk berbagai urusan. Hari sudah malam ketika kami sampai di Barak di Daerah Lhoksukon-Aceh Utara. Seorang teman Aceh menyambut kedatangan kami dan membantu menurunkan barang-barang kami.

10 June, 2010

HOW TO REACH RINJANI FROM JAKARTA



Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.
Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.
Ditengah ke khawatiran status Rinjani "Waspada" karena meletusnya Gunung Baru Jari (Anak Gunung Rinjani) kami ber-4 memutuskan untuk tetap berangkat, alasan konyol tetap berangkat adalah karena ticket pesawat pulang sudah dibeli jadi dari pada hangus lebih baik tetap ke Lombok. Info yang kami peroleh pendaki bisa tetap ke Rinjani namun Naik dan Turun Via Sembalun dan tidak diperbolehkan nge camp di Danau.
Rencana ke Rinjani telah dirumuskan (ceilee kayak birokrat aja) sejak bulan Februari 2010, aku, arul, dan shusi hanya kontak via email karena kitapun sebetulnya baru kenal ketika akan ke Rinjani ini. Milis Indobackpacker lah yang mempertemukan kami. gw dan Shusi sempet keder juga karena saudaraku Arul amat sangat susah untuk dihubungi....hampir saja kami (aku n shusi) nekat berangkat sendiri. Alhamdulillah akhirnya semua dapat berjalan sesuai rencana..
Dari Stasiun Jatinegaralah perjalanan ke Lombok di mulai, 12 Mei Malam kami menumpang kereta ekonomi "Bengawan" dengan tujuan stasiun Lempuyangan Jogja. Ticket seharga Rp35.000,- murah meriah buat Backpacker. Suasana kereta malam itu amat sangat "menyesakkan" maklum besoknya 13 Mei adalah hari libur jadi banyak penumpang yang tujuannya adalah mudik ke kampung halaman mereka ke kota-kota di Jawa. Berdiri aja susah, masih mending aku karena cewe dapat t4 duduk meskipun "nebeng" sementara araul dan nunu baru dapat duduk setelah di Purwokerto. Suasana Full dan Panas bener2 menguras energiku seperti sauna saja. Tapi semua itu kunikmati saja, untuk menghilangkan kejenuhan kami saling bertukar cerita dengan penumpang lain Bapak-Bapak yang mudik untuk mengunjungi anak dan istri mereka tercinta.
13 Mei 2010 pagi kami sampai di Stasiun Lempuyangan Jogja, kekhawatiran tertinggal Kereta Sri Tanjung tujuan Banyuwani sempat menghantui kami karena kereta Bengawan terlambat sampai. Di Lempuyangan kami bergegas menuju loket, alhamdulillah Sri Tanjung belum berangkat. Tak lama setelah tiket kami genggam Sri Tanjung Datang. Kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Di ticket tertulis Sri Tanjung Lempuyangan-Banyuwangi berangkat 7.30 tiba 21.30, oya harga ticket kereta kelas ekonomi ini Rp35.000 tanpa tempat duduk. Perjalanan panjang menuju ujung pulau Jawa pun di mulai. Soal logistik selama perjalanan tak perlu dikhawatirkan karena banyak pedangang yang berjualan makanan dan minuman. cukup Rp3000 untuk aqua 600ml. Buat makan antara Rp2000 (nasi kucing) Rp5000 lumayan porsinya lebih banyak...amat sangat cukup buat ukuranku.


Sekitar pukul 9-an malam kami sampai di Banyuwangi. Dari Stasiun kami berjalan menuju pelabuhan Ketapang. Karena perut sudah keroncongan kami memutuskan untuk makan dulu. Kami makan dengan lahap dengan menu Nasi, Pecel, telor, peyek kacang, plus segelas besar teh manis panas. Puas makan, mau tau berapa???? bertiga Rp15.000 only. tadinya kami mau naik mobil langsung dari ketapang sampe mataram ada yang menawari dengan harga Rp175.000. Tapi kami memutuskan untuk membeli ticket Ferry seharga Rp6.000 dan menyebrang ke pelabuhan Gilimanuk di Bali. Kami bertiga berlari menuju Ferry yang sudah akan berangkat. Pelayaran Ketapang-Gilimanuk ditempuh selama kurang lebih 1 Jam.
Sampai di Gilimanuk, semua penumpang di minta menunjukkan kartu identitas (ktp, atau sejenisnya) sebelum kemudian naik bus menuju terminal ubung. Untuk bisa duduk di bus menuju ubung (walaupaun hanya kebagian di bangku cadangan) kami membayar Rp35.000. Sampe di ubung jam 3-an WITA. dari Ubung ke Padang Bai dengan bus 3/4 dengan membayar Rp.30.000. Padang Bai-Lembar langsung naik bus dengan membayar Rp.45.000. Jika langsung naek Ferry ticket ferrynya aja Rp.33.000 untuk penyebrangan selama lebih kurang 5 Jam. Kondisi ferry cukup nyaman..sepanjang pelayaran kita bisa menikmati pemandangan yang ciiamik buanget. Turun di lembar bus yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan lagi menuju Mataram (terminal mandalika) orang setempat menyebut Bertais. Di dekat terminal mandalika inilah kami bertiga menunggu kedatangan Shusi, teman yang satu ini berangkat belakangan dengan pesawat. Dari mandalika untuk menuju pos pendakian sembalun, sebelumnya kita menumpang angkutan Elf menuju aik mel yang berjarak sekitar 1,5 jam seharga Rp15.000, tapi pulangnya hanya Rp12.000 karena di tawarkan oleh kawan kami iyas (asli lombok). Sampe di aik mel udah magrib...kami shalat magrib dulu di masjid dekat aik mel. Jika masih siang kita bisa menumpang elf lagi..namun kami memilih untuk menumpang colt sayur karena lebih murah (berempat kami membayar Rp100.000; pulangnya Rp80.000 ber empat). Untuk perjalanan sekitar 1,5 jam menuju sembalun (base camp). Jika punya cukup money teman2 bisa menginap di pondok sembalun dengan tarif termurah Rp80.000/malam atau lembah rinjani dengan tarif termurah Rp135.000/malam.